Batas Maksimal dan Minimal Haid (Syariat dan Medis)

Leave a comment

February 24, 2017 by irmalida

Secara medis waktu lamanya haid bisa memanjang atau memendek karena gangguan hormon atau penyakit. Misalnya normal haid itu 3-7 hari, maka bisa memanjangan lebih dari 7 hari atau kurang dari 3 hari.

tanda-haid-sudah-bersihBerikut istilahnya:
-Menoragi: haid memanjang dari normal
-Brakimenore: Haid memendek dari normal

Pendapat yang rajih adalah TIDAK ADA batasan  maksimal dan minimal haid, dan ini juga didukung oleh fakta secara medis.

Dengan alasan:

1.Syariat tidak menetapkan angka pasti lama waktunya
Karena haid adalah masalah yang sangat umum sekali, pasti syariat menjelaskan jika memang ada batasan lamanya

2.Syariat menetapkan illat/alasan bersih haid yaitu bersih dari “kotoran”, kapan bersih darah haid, itulah masa berhentinya haid

3.Ulama berselisih pendapat batasannya dengan angka yang tidak konsisten

Ibnu Taimiyyah berkata,

“Mengenai Haid, Allah mengaitkan banyak hukum yang berlaku ketika haid. Allah tidak memberikan batasan Baik  minimal dan maksimal.
Di antara ulama, ada yang menetapkan batas masa haid maksimal dan minimal. Namun mereka berbeda pendapat tentang berapa rincian batas tersebut. Ada pula ulama yang memberi batas maksimal masa haid, namun tidak memberi batas minimal masa haid.
Dan pendapat ketiga  yang lebih benar, bahwa tidak ada batas minimal dan tidak ada batas maksimal masa haid.”[5]

Allah menjelaskan Haid adalah “kotoran” ketika kotoran itu telah berhenti  dan suci dari kotoran itulah berhentinya haid dan diperbolehkan melakukan syariat shalat dan puasa.

‘Aisyah diperintahkan suci dari kotoran baru boleh manasik haji dan tidak ditetapkan batasan harinya.

Selengkapnya ا:

Batas Maksimal dan Minimal HAID menurut Syariat dan Medis

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

 

Berikut pembahasan lengkap berkenaan dengan ISTIHADHOH DENGAN HAIDH
✏@abinyasalma

Assalamualaykum warohmatulloohi wabarokatuh, Afwan Ustadz sebenarnya darah istihadhoh itu ciri-cirinya seperti apa? Kemudian ttg batasan lamanya istihadhoh saya mendengar ada 2 pendapat : 1. Sesudah 15 hari, berarti hr ke 16 dst adlh istihadhoh,  2. Sesudah selesai haid dg kebiasaan masing2 wanita. Misal saya terbiasa haid 6 hari, berarti hari ke 7 dst adlh istihadhoh. Pendapat mana yg benar Ustadz?

===
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Saya cuplikan bbrp faidah dari buku “Risâlah fid dimâ’ ath-Thabi’iyah lin nisâ’” karya Faqîhuzzamân Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullâhu, pada Pasal Kelima.

1⃣ Pengertian Istihâdhoh
الاستحاضة: استمرار الدم على المرأة بحيث لا ينقطع عنها أبداً أو ينقطع عنها مدة يسيرة كاليوم واليومين في الشهر
Istihâdhoh adalah keluarnya darah terus menerus pada wanita yang tidak terhenti selamanya, atau terhenti dalam waktu yang singkat saja seperti 2 hari dalam sebulan.
⏺ Dengan kata lain, darah yang keluar dari darah kebiasaan wanita, baik itu dalam hal periode, sifat darah, bau dan semisalnya maka darah tsb adalah darah istihâdhoh/penyakit.

2⃣ Kondisi (ahwâl) Istihâdhoh ada 3 macam.

➖ KONDISI PERTAMA
Syaikh Utsaimîn rahimahullâhu mengatakan:
أن يكون لها حيض معلوم قبل الاستحاضة فهذه ترجع إلى مدة حيضها المعلوم السابق فتجلس فيها ويثبت لها أحكام الحيض، وما عداها استحاضة، يثبت لها أحكام المستحاضة.
Ia memiliki waktu (periode) haidh yang sudah maklum (diketahui) sebelum mengalami Istihâdhoh, maka hendaknya ia mengembalikan kpd periode haidhnya yang sdh diketahui sebelumnya. Adapun selebihnya dianggap darah Istihâdhoh dan berlaku hukum² Istihâdhoh padanya.
⏺ Contoh :
Seorang wanita biasa mengalami haidh selama 10 hari sebelum mengalami Istihâdhoh, maka selama 10 hari itu dianggap haidh dan selebihnya dianggap Istihâdhoh.
✅ Dalilnya :
Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu anha, bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy pernah bertanya kepada rasulullah : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mengalami  Istihâdhoh terus menerus  dan tdk pernah suci (berhenti), apakah saya harus meninggalkan shalat?”
Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab :
لا، إن ذلك عرق، ولكن دعي الصلاة قدر الأيام التي كنت تحيضين فيها ثم اغتسلي وصلي
Tidak, karena darah tsb adalah penyakit. Namun, tinggalkan sholat sebatas hari² yang kamu dulu mengalami haidh di dalamnya, kemudian mandi dan sholatlah.” (HR Bukhari).

➖ KONDISI KEDUA
Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullâhu mengatakan :
أن لا يكون لها حيض معلوم قبل الاستحاضة بأن تكون الاستحاضة مستمرة بها من أول ما رأت الدم من أول أمرها، فهذه تعمل بالتمييز فيكون حيضها ما تميز بسواد أو غلظة أو رائحة يثبت له أحكام الحيض، وما عداه استحاضة يثبت له أحكام الاستحاضة
Seorang wanita yang  periode haidhnya tidak diketahui sebelum terjadinya istihâdhoh, karena dari awal usia (balighnya) dia sudah melihat darah (mengalami istihâdhoh) yang tidak berhenti.
Maka dalam kondisi seperti ini, ia bisa membedakan dengan melihat keumuman darah haidh yaitu berwarna hitam, kental dan memiliki bau yang berlaku padanya hukum haidh. Jika selain kondisi tsb, maka berlaku hukum istihâdhoh.
⏺ Contoh : Seorang wanita yang dari masa balighnya sudah mengalami pendarahan yg tidak berhenti, atau berhenti hanya sekilas, sehingga tdk bisa diketahui masa haidh sebelum masa istihâdhohnya.
Dalam kondisi seperti ini, maka dilihat darahnya yang keluar, dari sisi warna (hitam atau tidak), kekentalan (encer atau kental) dan bau.
Misal, jika ia selama 7 hari mengalami keluar darah berwarna kehitaman lalu setelahnya berwarna merah segar, atau selama 7 hari darahnya kental, setelah itu encer, atau selama 7 hari darahnya berbau setelah itu tidak, maka 7 hari tsb dianggap haidh dan selebihnya dianggap istihâdhoh.
✅ Dalilnya :
Hadits Fathimah bintu Abi Hubaisy, Rasulullah bersabda kepadanya :
إذا كان دم الحيضة فإنه أسود يعرف، فإذا كان ذلك فأمسكي عن الصلاة فإذا كان الآخر فتوضئي وصلي فإنما هو عرق
“Darah haidh itu berwarna kehitaman yg sudah diketahui. Apabila darah yg keluar spt itu, maka tahanlah dari sholat. Jika selain itu, maka berwudhu dan sholatlah, karena darah yg keluar Itu adalah penyakit.” (HR Abu Dawud)

➖ KONDISI KETIGA
Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullâhu mengatakan :
: ألا يكون لها حيض معلوم ولا تمييز صالح بأن تكون الاستحاضة مستمرة من أول ما رأت الدم ودمها على صفة واحدة أو على صفات مضطربة لا يمكن أن تكون حيضاً، فهذه تعمل بعادة غالب النساء فيكو حيضها ستة أيام أو سبعة من كل شهر يبتدئ من أو المدة التي رأت فيها الدم، وما عداه استحاضة.
Dia tidak mempunyai periode haid yang jelas  dan tidak bisa dibedakan  darahnya. Seperti jika istihâdhoh yang dialaminya terjadi terus-menerus mulai dari saat pertama kali melihat darah sementara darahnya dalam satu sifat saja atau berubah-ubah namun tidak bisa dibedakan dg darah haid. Dalam kondisi ini, hendaklah ia mengambil kebiasaan kaum wanita pada umumnya.
⏺ Misal seorang yang dari balighnya sudah mengalami pendarahan, dan sifat darahnya tdk bisa dibedakan dg haidh baik itu warna, kekentalan dan baunya, maka yang digunakan adalah periode haidh wanita pada umumnya, yaitu 6-7 hari.
✅ Dalilnya adalah sabda Nabi kepada Hamnah binti Jahsy :
فتحيضي ستة أيام أو سبعة في علم الله تعالى، ثم اغتسلي
Maka (perkirakan) haidhmu adalah 6 atau 7 hari menurut ilmu Allah Ta’ala, kemudian mandilah…

⏩ KESIMPULAN :
Apabila ibu biasa mengalami haidh 6 hari, artinya ibu mengetahui periode haidh sebelum mengalami istihâdhoh, maka dikembalikan ke darah kebiasaan yaitu selama 6 hari. Selebihnya adalah istihadhoh.
Adapun pendapat setelah 15 hari, saya blm mengetahuinya.
Wallahu a’lam.

 

(*) Catatan Redaksi WanitaSalihah.Com

Dari penjelasan Syaikh Shalih Al-Munajjid tersebut, bisa disimpulkan bahwa:

1. Ada beda pendapat di kalangan para ulama tentang batas minimal dan maksimal masa haid wanita. Pendapat jumhur (mayoritas) ulama adalah masa haid memiliki batas minimal (yaitu sehari-semalam) dan memiliki batas maksimal (yaitu selama 15 hari).

2. Untuk menentukan haid sudah berhenti atau belum, ada dua cara:

  • Melihat bahwa telah keluar cairan putih, atau …
  • Menyapukan kapas ke farji untuk melihat apakah masih ada darah merah, lendir/flek coklat, cairan keruh, atau cairan kuning. Bila masih ada salah satu di antara cairan tersebut, berarti itu masih masa haid. Bila sudah tidak ada, berarti haid telah selesai.

3. Pada hari-hari terakhir masa haid, darah biasanya keluar sedikit-sedikit. Oleh sebab itu, wanita hendaklah menunggu hingga ada salah satu dari kedua tanda tersebut.

4. Berapa lama dia mesti menunggu? Wanita tersebut hendaknya menunggu selama 12 jam. Menurut penjelasan Ibnu Qudamah, bila darah tidak keluar selama kurang dari satu hari (12 jam), maka itu tidak dianggap kondisi suci (lihat Al-Mughni, 2:126).

5. Contoh:

  • Tanggal 1, pukul 8 pagi: Si wanita mengecek ternyata masih ada sedikit darah yang keluar.
  • Tanggal 1, pukul 7 malam: Dia cek lagi ternyata kondisinya bersih (tidak ada darah, flek, atau cairan kuning). Berarti dia masih dalam masa haid.
  • Tanggal 1, pukul 8 malam: Dia cek lagi, ternyata keluar flek coklat. Berarti dia masih dalam kondisi haid.
  • Tanggal 2, pukul 4 subuh: Dia mengecek ternyata masih ada cairan keruh.
  • Tanggal 2, pukul 4 sore: Dia cek ternyata sudah tidak ada cairan apa pun yang keluar (dan dia juga sudah mengecek dengan kapas). Berarti dia telah suci.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Tasfiyah wat Tarbiyah

Mau tahu suami terbaik?

Suami terbaik adalah yang paling baik pada keluarganya, contohnya selalu membantu urusan istri di rumah.

Membantu pekerjaan istri di rumah termasuk bentuk berbuat baik dari suami pada istri dan menunjukkan keluhuran akhlak suami.

Coba lihat bagaimanakah contoh dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berada di rumah.

عَنِ الأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصْنَعُ فِى أَهْلِهِ قَالَتْ كَانَ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

Dari Al-Aswad, ia bertanya pada ‘Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat.” (HR. Bukhari, no. 6039)

Dalam Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Batthol rahimahullah disebutkan bahwa Al-Muhallab menyatakan, inilah pekerjaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Hal ini wujud tanda ketawadhu’an (kerendahan hati) beliau, juga supaya umatnya bisa mencontohnya. Karenanya termasuk sunnah Nabi, hendaklah seseorang bisa mengurus pekerjaan rumahnya, baik menyangkut perkara dunia dan agamanya.

Sumber : Rumaysho .
.

#suamiidaman #sunnahway #syiarsyari بِسْــــــــــــــمِ اللّهِ 🍃🌼 BERILAH 70 UDZUR… ✏Oleh:
Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

MAY 30, 2016 ADMIN

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”
(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344). Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.” (Dikeluarkan oleh Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah). http://bbg-alilmu.com/archives/19066 ***🍃🌼🍃*** Ngemil Malam Briefing SPG untuk event di GIIAS 2017 ICE BSD Serpong Klenik dalam Ritual Penguburan Ari-ari

Jika kita mengambil pendapat para ulama yang menganjurkan mengubur ari-ari, satu hal yang perlu diingat, ini sama sekali bukanlah menganjurkan Anda untuk melakukan berbagai ritual ketika menguburkan benda ini. Sama sekali tidak menganjurkan demikian. Bahkan jika sikap semacam ini diiringi dengan berbagai keyakinan tanpa dasar, maka jadinya tahayul dan khurafat yang sangat dilarang syariat.

Memberi lampu selama 40 hari, di kubur bersama pensil, bunga, jarum, gereh, pethek, sampai kemiri gepak jendhul, semua ini pasti dilakukan karena tujuan tertentu.

Ketika ini diyakini bisa menjadi sebab agar bayinya memiliki kemampuan tertentu, atau agar bayinya mendapatkan semua yang bisa membahagiakan hidupnya, maka berarti termasuk mengambil sebab yang sejatinya bukan sebab. Dan itu termasuk perbuatan syirik kecil.

Selengkapnya :

https://muslimafiyah.com/penting-mengetahui-sebab-kauniy-dan-sebab-syari.html

Penyusun: Raehanul Bahraen PAMER KEMESRAAN DI MEDSOS?

Saya mau bertanya mengenai hukum islam tentang suami istri bermesraan didepan umum, awal mulanya saya mengomentari suatu foto di Facebook yang memposting seorang ustadzah muda yang sering kita lihat di televisi yang bergandengan tangan dan berpelukan dengan suaminya

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bermesraan setelah menikah memang sesuatu yang dihalalkan. Tapi kita perlu ingat, tidak semua yang halal boleh ditampakkan dan dipamerkan di depan banyak orang.

Ada beberapa pertimbangan yang akan membuat anda tidak lagi menyebarkan foto kemesraan di Medsos,

Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar umatnya memiliki sifat malu. Bahkan beliau sebut, itu bagian dari konsekuensi iman.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang. Dan rasa malu salah satu cabang dari iman. (HR. Ahmad 9361, Muslim 161, dan yang lainnya). Dan bagian dari rasa malu adalah tidak menampakkan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan di depan umum.

Kedua, islam juga mengajarkan agar seorang muslim menghindari khawarim al-muru’ah. Apa itu khawarim al-muru’ah? Itu adalah semua perbuatan yang bisa menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang. Dia menjaga adab dan akhlak yang mulia.

Ketiga, gambar semacam ini bisa memicu syahwat orang lain yang melihatnya. Terutama ketika terlihat bagian badan wanita, tangannya atau wajahnya.. lelaki jahat bisa memanfaatkannya untuk tindakan yang tidak benar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa setiap orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. "
(HR. Ahmad 9160, Muslim 6980, dan yang lainnya). Bisa jadi anda menganggap itu hal biasa, tapi orang lain menjadikannya sebagai sumber dosa.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://konsultasisyariah.com/28247-hukum-pamer-kemesraan-di-medsos.html GERAKAN HABISKAN MINUMAN KEMASAN GELAS

Jadi teringat kisah ustadz Yazid... Berkata Ustadzuna Andika dari Cirendeu:
Ketika dulu mengabdi di Ma'had Minhajus Sunnah, ana dibuat takjub akan waro'nya al-Ustadz Yazid.
Suatu ketika datang tamu ke ma'had, dan disediakanlah air teh manis sebagai minuman sang tamu. Namun ketika tamu sudah pulang, al-Ustadz melihat air teh yang belum habis diminum. Lalu beliau membawa sisa air minum tadi ke kamar mandi. Alih-alih bukannya air dibuang ke saluran pembuangan, malah dibuang ke bak mandi.
Lalu ana bertanya ke al-Ustadz Yazid, "Ya ustadz kenapa dibuangnya di bak mandi?"
Al-Ustadz menjawab: "Sayang kalo dibuang, kan masih bisa dipakai buat mandi. Dan air teh yg merah ini pun akan larut bersama air bak mandi yg lebih banyak. Dan ana takut ditanya Allah cuma karena membuang sisa air teh."
(Percakapan ditulis secara makna dari cerita Ustadzuna Andika). --------------- İSRAF

Sedih campur kesal kalau ada orang berperilaku israf :'( gemeeees, biasanya saya langsung ceplos-ceplos. Kalau diabaikan ya kebangetan.

Padahal Allah secara jelas mengelompokkan sesiapa yg berlaku israf sebagai golongan SETAN. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat hak mereka dan kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Al İsra' 26-27.

İsraf menjadi larangan Allah, sesuatu yang dilarang maka hukumnya apa ya saudaraku? tentu hukumnya HARAM. “... makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Al A'raf 31.

Jadi, jika hanya haus sedikit, tahanlah sampai di rumah. Jika tak mampu menahan, minumlah dan bawalah bersamamu ketika hendak pulang. Jangan buat tuan rumah melakukan perbuatan israf dengan membuang-buang air bekas minuman kita karena ketidaktahuannya soal hukum İsraf.

Hati-hati Allah tak segan memberikan hukuman atas segala perbuatan kita termasuk israf, semisal banjir, berkurangnya atau bahkan hilangnya ni'mat rejeki yang berkah, dsb.

By : Mamak Elif
Sumber gambar : Puyeng Roem #kajiansunnah #abufairuz #tangerang #masjidnurulmuttaqien

Blog Stats

  • 1,585 hits
%d bloggers like this: