Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak

Leave a comment

March 1, 2017 by irmalida

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู‚ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููŠูƒูู…ู’ ู†ุงุฑุงู‹ ูˆู‚ูˆุฏู‡ุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุงู„ู’ุญูุฌูŽุงุฑูŽุฉู ุนู„ูŠู‡ุง ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉูŒ ุบูู„ุงุธูŒ ุดูุฏุงุฏูŒ ู„ุงู‘ูŽ ูŠูŽุนู’ุตููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽูู’ุนูŽู„ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ูŠูุคู’ู…ูŽุฑููˆู†ูŽ

โ€œHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.โ€
~ Qs. At-Tahrim [66]:6

Oleh Ustadz Abdullฤh Zaen MA
๐Ÿ“” Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 1-5)
Transkrip oleh Team BIAS

 

๐Ÿ“” Bagian 1

shalatSekarang, sesuatu yang memprihatinkan di masyarakat adalah melihat prilaku sebagian anak-anak kita. Kita memperhatikan banyaknya prilaku yang tidak baik dari sebagian anak-anak kepada orang tuanya atau kepada teman-temannya atau kepada yang lainnya. Tidak sedikit kita perhatikan hal tersebut.

Sehingga, kadang-kadang ada orang tua, manakala dia melepaskan anaknya pergi ke sekolah atau pergi kemana saja timbul rasa was-was di dalam hatinya,

“Jangan-jangan nanti anak saya nanti terpengaruh dengan temannya dan jangan-jangan…”

Selalu itu yang timbul di dalam perasaan hatinya. Karena memang kenyataannya di luar kita perhatikan banyak sekali anak yang prilakunya tidak baik.

Bahkan tidak jarang kita melihat ada anak yang berani membentak orang tuanya, anak tidak menurut kepada orang tuanya.

Bahkan juga pernah kita dengar berita ada anak berani membunuh orang tuanya.

Darimana sumber akhlak yang buruk tersebut?

Lain halnya seandainya kita melihat ada seorang anak yang baik perilakunya, lembut tutur katanya kemudian juga taat beribadah, pemikirannya terdidik. Ketika kita melihat anak seperti ini kita akan kagum dan bahkan mungkin di zaman kita ini kalau ada anak yang seperti itu, bisa jadi itu merupakan manusia langka.

Ketika kita dapatkan ada anak yang tutur katanya baik, sopan, taat beribadah kita akan senang bila bertemu dengan dia.

โ‡’ Siapa yang tidak senang melihat anak yang tutur katanya baik?

โ‡’ Siapa yang tidak senang melihat anak yang sopan di dalam berperilaku?

โ‡’ Siapa yang tidak senang melihat anak yang taat beribadah, shalฤt berjama’ah di masjid?

Tapi coba lihat kondisi masjid-masjid kaum muslimin. Kebanyakan yang shalฤt adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.

Lalu di mana anak-anak kaum muslimin?

Mereka sibuk, bila tidak di depan televisi, mereka berada di warnet main game atau PS. Kalau sore-sore sibuk di lapangan bola. Bukan tidak boleh main bola, tapi kadang-kadang sampai nabrak waktu shalฤt maghrib.

Yang namanya pengajian-pengajian ramai didatangi kalau hanya setahun sekali. Pengajian yang rutin jarang didatangi.

Itulah kenyataan yang ada.

Makanya, kalau kita melihat ada anak yang prilakunya baik maka kita senang. Bila bertemu dengan mereka ibarat menemukan mutiara.

Apakah cukup dengan senang saja?

Tentunya tidak berhenti sampai disitu

Ketika kita melihat ada anak yang berprilaku baik, sopan dalam bertutur dan berkata, kita berusaha untuk menebak, kenapa anak ini bisa seperti ini?

Yang namanya anak, lahir ke dunia tidak tiba-tiba ada, itu tidak mungkin. Pasti anak ini lahir dari orang tua (bapak dan ibu) kalau misalnya kita melihat ada anak yang akhlaknya mulia berarti kita bisa menebak, kemungkinan besar anak ini dididik dengan baik oleh orang tuanya.

Mengapa demikian?

Karena prilaku anak itu sangat terpengaruh dari pendidikan yang dialami oleh dia. Makanya bila ada anak baik biasanya pendidikan dari orang tuanya juga baik, ibarat bibit unggul.

Karena apa?

Karena induknya baik.

Maka dari sinilah kita mengetahui pentingnya tugas orang tua.

 

๐Ÿ“” Bagian 2

Kalau kita menginginkan anak kita baik, maka kita harus berusaha. Banyak orang tua yang ingin anaknya baik tetapi dia tidak pernah berusaha.

. Dia ingin anaknya bertutur kata lembut, tapi dia tidak pernah membiasakan anaknya bertutur kata lembut.

. Dia ingin anaknya punya unggah-ungguh tetapi dia tidak pernah mengajarkan anaknya unggah-ungguh.

. Dia ingin anaknya taat beribadah tetapi dia juga tidak memperhatikan, tidak pernah menegur tatkala anaknya tidak beribadah dengan baik.

Ini namanya jauh panggang dari api.

Bagaimana mungkin kita memiliki anak yang baik prilakunya kalau kita tidak pernah berusaha?

Kita sebenarnya sudah diberi bantuan oleh Allฤh Subhฤnahu wa Ta’ฤla yang luar biasa, yaitu berupa modal.

Apa itu modalnya?

Modalnya adalah anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, fitrah yang bersih.

Jadi, sebenarnya anak itu gampang untuk diarahkan.

Sehingga tidak benar bila ada ungkapan yang mengatakan, “Anakku memang susah sekali.”

Kenapa?

Karena kita sendiri yang tidak bisa memanfaatkan modal yang Allฤh berikan.

Seharusnya ketika ada sesuatu yang bersih, fitrah yang bersih, seperti kertas yang putih. Kertas putih ini sudah merupakan modal. Bagaimana kita akan mengambar diatas kertas itu? Dengan gambar yang bagus atau dengan gambar yang jelek.

Sekarang, bila ada kertas yang putih kemudian kita menggambar disitu dengan gambar yang jelek, lalu yang salah siapa?

Yang salah yang mengambar atau kertasnya?

Yang salah adalah yang menggambar, bukan kertasnya.

Jadi, sebenarnya kita sudah diberi modal oleh Allฤh Subhฤnahu wa Ta’ฤla anak itu lahir dalam keadaan fitrah.

Kata Nabi shallallฤhu ‘alayhi wa sallam:

ูƒูู„ู‘ู ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏู ูŠููˆู„ูŽุฏู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽุฉู

“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah.”

(HR Abu Daud nomor 4093 versi Baitul Afkar Ad Dauliah nomor 4716)

Fitrah yang murni yang bersih mempunyai modal kecenderungan kepada sesuatu yang baik.

Sehingga keliru bila ada orang tua yang selalu menyalahkan anaknya ketika berperilaku jelek.

Anak itu sudah diberi oleh Allฤh Subhฤnahu wa Ta’ฤla kecenderungan untuk memilih sesuatu yang baik.

Sekarang bagaimana cara kita memolesnya?

Kita sudah diberi modal, kalau seandainya kita rugi di dalam berdagang padahal kita sudah punya modal, jangan disalahkan modalnya tapi salahkanlah diri kita.

Kenapa kita tidak baik-baik di dalam mengelola modal tersebut?

Apabila kita sudah diberi modal seharusnya kita sudah bisa menghasilkan keuntungan bukan kerugian.

Maka disinilah tugas kita sebagai orang tua adalah tugas yang cukup (sangat) mulia namun cukup berat.

Kenapa?

Karena banyaknya tantangan-tantangan. Perilaku-perilaku jelek yang ada disekeliling kita.

Tidak usah kita keluar rumah, di dalam rumah kita sendiri kadang-kadang kita menyuruh untuk berperilaku yang baik kepada anak kita tapi disisi lain kita menyediakan alat yang lebih kuat untuk merubah perilaku anak tersebut.

wpid-20150329_084401.jpgApakah itu? Televisi

Sekarang kita menyuruh anak kita untuk berperilaku baik, tapi sebentar saja dia melihat televisi, disitu ada film tentang bagaimana orang bertutur kata dengan tutur kata yang jelek.

Yang namanya film terkadang ditampilkan kata-kata yang jelek sehingga semua itu melekat dalam benak anak kita. Anak kita kadang bisa meniru kata-kata yang tidak baik dari televisi tersebut.

Apa orang tuanya yang mengajarkan ini semua?

wpid-2015-04-04-08.31.32.jpg.jpegSaya pikir tidak, itu semua mereka lihat dari tontonan. Anak kita disuruh untuk menjaga auratnya ternyata di televisi yang dilihat adalah tontonan wanita-wanita yang membuka aurat.

Jadi disisi lain kita berusaha menanamkan, kita berusaha untuk merajut kemudian kita sendiri yang membongkar rajutan tersebut.

Itu baru berbicara di dalam rumah belum bila kita berbicara di luar rumah.

Ada tetangga yang tidak baik. Makanya ada ungkapan arab yang mengatakan:

ุงู„ุฌูŽุงุฑู ู‚ูŽุจู„ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุฑู

“Tetangga sebelum rumah.”

Apa maksudnya?

Maksudnya kalau kita ingin mengontrak rumah atau membangun rumah sebelum memilih lokasi rumahnya, dilihat dulu siapa tetangganya.

Jadi jangan milih karena tanahnya cocok baru kemudian melihat tetangga, bukan!

Pertama kali kita harus survey dahulu tetangganya seperti apa.

Apakah kanan kirinya adalah orang-orang shฤlih yang baik-baik, rajin shalฤt?

Perilaku anak-anaknya bagaimana?

Jadi, kita harus mewaspadai itu semua karena apa?

Karena kita punya tanggung jawab untuk mendidik anak kita.

Makanya Imฤm Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullฤh dalam salah satu kitฤbnya yaitu Tuhfatul Maudud bi Ahkฤmil Maulud, beliau menjelaskan bahwa salah satu yang sangat dibutuhkan oleh anak ketika masa kecil adalah memperhatikan akhlaknya.

Kenapa?

Karena anak itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan.

Kalau misalnya dari kecil dia sudah terbiasa untuk emosi, untuk serampangan, untuk rakus, untuk tergesa-gesa, untuk keras kepala, apabila dari kecil dia sudah terbiasa seperti itu maka dia akan kesulitan untuk merubah prilaku jelek itu ketika dia sudah dewasa.

 

๐Ÿ“” Bagian 3

Kalau misalnya anak itu dari kecil sudah terbiasa untuk sabar, sudah terbiasa untuk bisa menerima nasehat, sudah terbiasa untuk tidak serampangan, sudah terbiasa untuk berbagi, karena orang tuanya yang membiasakan itu, maka dengan idzin Allฤh besarnya akan seperti itu.

Maka disini kita perlu melihat anak kita.

Setiap manusia itu punya sifat dasar buruk. Diantara sifat dasar buruk, yaitu:

โˆšRakus
โˆšBodoh
โ€Œdan seterusnya.

Nah, kalau misalnya kita melihat ada potensi sifat buruk tersebut dan kita melihat itu agak menonjol di dalam diri anak kita, maka tanggung jawab orang tua adalah berusaha memperbaiki. Dan tidak boleh ada alasan, “Ini sudah bawaan bayi,” tidak boleh seperti itu.

Justru kita harus punya tanggung jawab untuk merubah.

Bagaimana caranya gawan (bawaan) bayi yang jelek itu bisa berubah menjadi baik?

Ya itulah tugasnya orang tua!

โ‡’ Misalnya ada anak, anak ini kok kalau makan tidak pernah mikir adik-adiknya atau kakaknya alias ego (egois).

Kalau misalnya kita melihat, kita bisa membaca, nih, anak kita ini kalau makan tidak pernah ingat adiknya, atau kakaknya, atau saudaranya, oh ini perilaku yang jelek.

Kalau (misalnya) kita sudah mencium adanya bau seperti itu, maka kita sebagai orang tua, setelah kita bisa mendeteksi adanya perilaku buruk, benih-benih itu, maka jangan biarkan benih itu akan semakin besar.

Kalau bisa benih itu diputus, sebelum benih itu membesar.

Itulah tugasnya orang tua!

Ketika orang tua melihat ada anak yang punya potensi perilaku buruk, dia punya sifat kayak tadi misalnya egois, maka kita sebagai orang tua harus berusaha untuk mengkikis sifat itu sedikit demi sedikit.

Di antara caranya, misalnya:

Kita ajak anak itu untuk pergi ke warung untuk beli jajan (misalnya), “Ayo nak beli jajan.”

Dia milih,ย  ternyata dia ngambil cuma satu jajan.

Laluย  kita tanya, “Loh buat adik mana?”

โ†’ Dia mulai dilatih, ternyata saya ini hidup di rumah ada adik, atau ada kakak.

“Loh buat adik, buat kakak mana, oh iya, jadi beli berapa ini?”

Beli tiga,ย  satu buat kamu, satu buat adik, satu buat kakak (itu namanya pembiasaan).

kajianKalau misalnya kita melihat kok anak ini agak tergesa-gesa atau gampang emosi. Maka kita sebagai orang tua tidak boleh membiarkan anak itu berkembang di dalam sifat emosinya. Karena nantiย  kalau sudah terlanjur besar, kita akan kesulitan untuk merubah sifat yang sudah terlanjur melekat dan mendarah daging dalam diri anak kita.

Kalau kita melihat anak kita emosian saat dia mengungkapkan emosinya, kita dekap dia (misalnya) atau kita omongi dengan pelan-pelan atau mungkin ketika dia lagi emosi sulit diomongi, kita ngomonginya ketika dia sedang kondisi psikologisnya sedang stabil.

Kita sampaikan kepada dia, “Nak apa manfaatnya suka marah-marah, apakah kamu mendapat pahala dari Allฤh Subhฤnahu wa Ta’ฤla kalau marah-marah, tahu gak kalau kamu marah-marah itu yang senang siapa?”

Setan.

Apakah kamu pengen bikin senang setan atau kamu pengen bikin setan itu sedih?

Kalau misalnya kamu marah-marah gitu setan tambah senang. Setan itu musuh kita. Jangan bikin musuh kita senang. Bikinlah musuh kita sedih.

Bagaimana caranya?

Kalau misalnya kamu sedang marah, coba kamu berta’awudz, mengucapkan apa?

ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‡ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ู

Dilatih anak kita.

Jadi kalau misalnya kita melihat ada potensi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri anak kita, maka tugasnya orang tua sedini mungkin adalah berusaha untuk memutus potensi tersebut dan tidak membiarkan potensi keburukan itu akan semakin membesar.

Sebaliknya kalau kita melihat anak kita punya potensi yang baik, itulah tugas orang tua untuk terus mengembangkan potensi yang baik tersebut.

Maka langkah yang pertama menuju mencetak anak yang mulia akhlaknya adalahย  kita harus membina anak kita secara nyata.

Secara nyata itu bagaimana?

โ‡’ Secara nyata itu antara lain adalah kita harus menjadi teladan yang baik buat anak kita.

 

Bersambung di bagian berikutnya, akan diupdate parsial, Jazaakumullahu/ Jazaakunallahu Khoiron Katsiron

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Tasfiyah wat Tarbiyah

*Sekedar Mengingatkan*

Lebaran sebentar lagi, kita harus hati-hati nih sama urusan salam-salaman (๐Ÿค) *Kita harus paham* siapa aja yg bukan mahrom yg kita GA BOLEH BERSENTUHAN ATAU BERSALAMAN dengan mereka *โ‡ฉ 14 Mahram kamu (untuk perempuan) adalah:* 1. Ayah
2. Kakek
3. Anak
4. Cucu
5. Saudara sekandung
6. Saudara seayah (beda ibu)
7. Saudara seibu (beda ayah)
8. Keponakan lelaki dari saudara/i kamu yg sekandung, atau yg hanya seayah, atau yg hanya seibu denganmu
9. Paman dari saudara ayah atau saudara ibu
10. Suami ibu (ayah tiri) atau mantan suami ibu (mantan suami yg pernah bersetubuh dgn ibu)
11. Anak lelaki suami yg dibawa dari pernikahannya sebelumnya dan anak lelaki dari mantan suami
12. Mertua atau mantan mertua
13. Menantu atau mantan menantu
14. Saudara sesusuan dan siapa saja yg merupakan mahram saudara sesusuanmu dari nasab dia, maka menjadi mahrammu juga *Untuk mahram laki-laki* sama seperti poin di atas, hanya diganti perempuan semua (ibu, nenek, saudari sekandung, dst). *โ–  Nah SELAIN DARI POIN 1-14... itu BUKAN mahram kamu.* Mereka ga boleh bersentuhan dan bersalaman dgn kamu, ga boleh liat aurat kamu, dan ga boleh nemenin kamu safar. *_CATATAN_*
*โ—Sepupu bukan mahram*
*โ—Ipar bukan mahram*
*โ—Anak angkat atau anak asuh bukan mahram*
*โ—Ayah angkat bukan mahram*
*โ—Suaminya tante (suami dari saudarinya ibu atau ayah) juga bukan mahram
-----------------------๐Ÿ“ Jadi kalo besok lebaran kamu ketemu *sama lelaki SELAIN DARI POIN 1-14 dan yg disebut dlm CATATAN di atas ini, kamu DILARANG salaman yaa.* Kenapaa..โ“
Karena Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„ุฃูŽู†ู’ ูŠูุทู’ุนูŽู†ูŽ ูููŠ ุฑูŽุฃู’ุณู ุฑูŽุฌูู„ู ุจูู…ูุฎู’ูŠูŽุทู ู…ูู†ู’ ุญูŽุฏููŠุฏู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู…ูŽุณู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู‹ ู„ุง ุชูŽุญูู„ู‘ู ู„ูŽู‡ู *"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya."* (HR. Thobroni)

Kadang sebagian orang merasa "ga enak" kalau ga jabat tangan dengan lawan jenis bukan mahramnya..
Tapi anehnya, dia tidak merasa "ga enak" saat melanggar perintah Rosululloh.. So, saatnya introspeksi, ubah pola pikir kita, tentukan sendiri pilihanmu: โžก Pilih "ga enak" sama manusia, atau "ga enak" sama Rosululloh..โ“ โœจMalam 1000 Bulan Pasti Hadir, Tidak Perlu Sibuk Mencari Tandanya

Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., M.A โ˜˜Sobat! Hari hari ini banyak dari kaum muslimin yang terobsesi untuk mendapatkan lailatulย qadar! Mereka sibuk membicarakan dan mendiskusikan perihal keutamaanย Lailatul Qadar. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui indikasi-indikasi hadirnya lailatul qadar.

Sobat! Percayalah bahwa malam tersebut pasti hadir, anda ketahui tanda tandanya ataupun anda tidak mengetahuinya, anda menyadari kedatangannya ataupun tidak menyadarinya.

Dahulu Nabiย shallallahuโ€™alaihi wa sallamย beriโ€™tikaf dan meningkatkan ibadahnya di malam malam terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana beliau juga membangunkan keluarganya untuk bersama sama beribadah di malam-malam tersebut.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan mengidentifikasi ciri-ciri kedatangan malam lailatul qadar. Beliau lebih memilih untuk meningkatkan amalam di kesepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Dengan demikian dapat dipastikan bahw beliau telah beramal hingga maksimal di malam lailatul qadar yang jatuh pada salah satu malam dari kesepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.

Itulah pesan yang Beliau sampaikan melalui sabdanya:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูุชูŽุญูŽุฑู‘ููŠูŽู‡ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุนูŽุดู’ุฑู ุงู„ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑู โ€œBarang siapa dari kalian mencari lailatul qadar, hendaknya ia mencarinya di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhanโ€ ( Muttafaqun alaih)

Sobat! Dari pada anda memikirkan dan terus bertanya kapan lailatul qadar datang, lebih bijak bila anda bertanya: apa yang saya lakukan pada malam malam yang tersisa di bulan Ramadhan ini guna memanfaatkan kehadiran lalilatul qadar?

Percayalah bahwa anda pasti melalui momentum lailatul qadar sebagaimana orang-orang kafir dan fasik pun juga melalui momentum yang sama. Namun yang membedakan antara anda dari mereka adalah amalan anda, mereka bergelimang dalam dosa dan maksiatnya, sedangkan anda bisa mengisi lailatul qadar dengan lantunan Al qurโ€™an, dzikir, doa, dan shalat malam. โ€” โœ๐ŸผPenulis: Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA. ๐Ÿ“Artikel Muslim.Or.Id

Blog Stats

  • 1,557 hits
%d bloggers like this: